Indonesia dengan Tingkat Risiko Ancaman Siber Tertinggi: TrendMicro

TrendMicro, sebuah perusahaan perangkat lunak keamanan siber internasional, melaporkan bahwa Indonesia telah memasuki zona ‘risiko tinggi’ CRI, mendorong negara itu ke tingkat risiko ancaman siber tertinggi yang pernah ada.

Data ini, yang mencakup semester pertama tahun 2021, diterbitkan sebagai bagian dari laporan Indeks Risiko Cyber ​​dua tahunan TrendMicro bekerja sama dengan Ponemon Institute.

Ini mengungkapkan statistik mengejutkan terkait dengan keamanan siber Indonesia. Yang paling krusial, Indonesia telah merosot ke CRI -0,12 pada tahun 2021, dibandingkan dengan CRI 2020 sebesar 0,26.

CRI, yang merupakan indikator pengukuran risiko dunia maya, memiliki dua area utama untuk menentukan peringkatnya. Yang pertama adalah tingkat kesiapan pihak tertentu terhadap serangan siber, dan yang kedua adalah tingkat ancaman siber yang dihadapi organisasi. Angka-angka tersebut dinilai pada skala -10 hingga 10, dengan -10 sebagai risiko dunia maya tertinggi dan 10 sebagai yang terendah.

Indonesia telah turun ke negatif dan telah memasuki zona risiko tinggi dari ‘risiko sedang’ sebelumnya.

Selain itu, data tersebut juga mengungkapkan bahwa dalam survei terhadap 3.600 bisnis global, 81 persen perusahaan Indonesia meyakini ada kemungkinan kebocoran data dalam 12 bulan ke depan.

Sekitar 61 persen memiliki setidaknya satu pelanggaran data yang melibatkan kebocoran catatan pelanggan.

“Dengan lebih dari setengah responden yang melaporkan kebocoran data pelanggan dalam 12 bulan terakhir, perusahaan harus lebih mempersiapkan diri dengan mengidentifikasi kumpulan data berisiko tinggi, fokus pada ancaman dampak besar, dan menerapkan perlindungan yang lebih berlapis”, kata Country Manager TrendMicro Indonesia Laksana Budiwiyono di sebuah pernyataan pada hari Kamis.

Data ini tidak mengejutkan, karena beberapa pelanggaran data besar telah terjadi sepanjang tahun ini dan yang terakhir. Yang terbaru baru saja diumumkan beberapa hari lalu, dengan adanya dugaan 1,3 juta data pengguna bocor dari aplikasi pelacak Covid-19 Kementerian Kesehatan, eHAC.

BACA JUGA  Trend di Youtube yang Akan Viral 2022, Content Creator Mesti Baca!

Terlepas dari desakan Kementerian Kesehatan bahwa kebocoran data tidak berasal dari server mereka, masalah ini memunculkan percakapan tentang keamanan siber dan regulasi keamanan siber di Indonesia.

“Serangan siber di Indonesia semakin ganas dan menjadi sasaran. Ini membuat mereka lebih berbahaya secara keseluruhan,” kata Budiwiyono.

Teguh Wilidarma, konsultan di TrendMicro, percaya bahwa tiga pihak mungkin proaktif dalam memastikan keamanan siber. Yang pertama, tentu saja, adalah peran organisasi untuk menetapkan protokol keamanan.

Yang kedua adalah peran yang dimainkan konsumen dalam memilih kapan dan di mana harus menyerahkan data, dan yang ketiga adalah peran pemerintah untuk menetapkan konsekuensi yang sesuai ketika kejahatan tersebut benar-benar terjadi.

Misalnya, Peraturan Perlindungan Data Umum memastikan bahwa organisasi yang rentan terhadap pelanggaran data bertanggung jawab atas kurangnya keamanan siber mereka di Uni Eropa. Pada Oktober 2020, British Airways didenda 20 juta euro karena kebocoran lebih dari 400.000 pelanggan pengguna.

Intervensi pemerintah semacam itu mendorong perusahaan untuk bertanggung jawab dan memperketat keamanan siber mereka, kata TrendMicro.

Sumber: jakartaglobe.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *