Air Products & Chemicals, Peluncuran Pabrik Hilirisasi Batubara di Sumatra Selatan Senilai $2.3 Juta

Presiden Joko “Jokowi” Widodo telah memimpin acara peletakan batu pertama untuk proyek hilir batu bara senilai $ 2,3 miliar di Kawasan Industri Tanjung Enim, Sumatera Selatan, pada hari Senin, memulai investasi langsung terbesar kedua oleh sebuah perusahaan Amerika di Indonesia dalam satu tahun terakhir. .

Negara itu mengharapkan proyek itu akan membantunya mengurangi ketergantungannya pada impor bahan bakar yang mahal.

Air Products and Chemicals, produsen gas dan bahan kimia industri multinasional Amerika, bekerja sama dengan penambang batu bara milik negara Bukit Asam dan perusahaan energi milik negara Pertamina untuk membangun pabrik yang mengubah batu bara menjadi dimethyl ether (DME). Pemerintah berharap bahan bakar gas yang bisa menggantikan liquified petroleum gas (LPG) di dapur-dapur di seluruh tanah air.

Menteri Penanaman Modal dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia mengatakan pabrik tersebut akan membutuhkan total investasi Rp 33 triliun ($ 2,3 miliar) dan sekitar 30 bulan untuk konstruksi.

“Ini investasi yang cukup besar. Ini merupakan investasi terbesar kedua dari Amerika Serikat setelah Freeport,” kata Bahlil dalam acara, Senin. Dia merujuk investasi Freeport Indonesia senilai US$2,9 miliar untuk pembangunan smelter tembaga di Jawa Timur, yang diharapkan mulai dibangun tahun ini. Freeport McMoran menguasai 48,8 persen di Freeport Indonesia, sedangkan sisanya dikuasai oleh pemerintah Indonesia.

“Ini sepenuhnya investasi langsung dari Amerika Serikat. Bukan dari Korea Selatan, Jepang, atau China. Ini juga menghilangkan anggapan bahwa kami hanya fokus [menarik investasi] dari satu negara saja,” kata Bahlil.

Bahlil mengatakan proyek batubara-ke-DME akan menghasilkan 12.000 hingga 13.000 pekerjaan langsung selama fase konstruksinya, yang dilakukan oleh Air Products and Chemicals. Proyek ini juga akan menambah 11.000 hingga 12.000 pekerjaan di fasilitas hilir Pertamina.

BACA JUGA  Saatnya Indonesia Harus Melakukan Hilirisasi: Jokowi

“Untuk pekerjaan tidak langsung, proyek ini melibatkan banyak kontraktor dan subkontraktor. Bisa tiga sampai empat kali lipat gandakan efeknya,” kata Bahlil.

“Selain itu, begitu ada produksi, akan ada 3.000 pekerjaan tetap di batu bara untuk proyek DME.

Presiden Jokowi mengaku gembira dengan groundbreaking pabrik tersebut, menunggu sekitar enam tahun hingga proyek hilirisasi batu bara akhirnya dimulai.

Mengubah batu bara menjadi DME, kata Presiden, akan mengurangi impor LPG dan meringankan beban APBN. Selain itu, menciptakan lapangan kerja baru dan meningkatkan neraca perdagangan.

“Impor elpiji kita besar, mungkin Rp 80 triliun dari total kebutuhan kita Rp 100 triliun [setahun]. Itu harus disubsidi untuk masyarakat karena harganya sudah sangat tinggi. Subsidinya sekitar Rp 60-70 triliun, “Joko.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir mengatakan proyek coal-to-DME merupakan proyek strategis nasional. Status ini memastikan proyek akan menikmati berbagai insentif dari pemerintah seperti keringanan pajak atau percepatan proses perizinan.

Erick mengatakan Air Products and Chemicals menginvestasikan $ 2,1 miliar dalam proyek tersebut. Dengan utilisasi batu bara enam juta ton per tahun, kata Erick, proyek ini dapat menghasilkan 1,4 juta DME per tahun untuk mengurangi impor LPG sebesar satu juta ton per tahun.

Indonesia adalah pengekspor batu bara terbesar di dunia, mengirimkan sekitar 400 juta ton ke luar negeri setiap tahun. Negara Asia Tenggara ini memiliki cadangan batu bara sekitar xx miliar, terbesar ke-11 di dunia, menurut data yang dikumpulkan oleh Worldometer.

Sumber: jakartaglobe.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *