Kecemasan Berlebihan Terhadap Trend ‘FoMO’, Apakah Itu?

Banyak dari masyarakat di Indonesia saat ini mengalami depresi, stress, dan kecemasan yang berlebihan dikarenakan media sosial yang sangat pesat tumbuh di Indonesia saat ini. Trend kekinian yang menunjukkan kemewahan di social media, khususnya Instagram membuat banyak pengguna nya merasa hidupnya tidak lebih baik daripada yang terlihat di timeline social media tersebut.

Sebenarnya hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan dan pengenalan tujuan dari social media itu sendiri oleh penggunanya. Oleh karena itu seharusnya kita saat ini terutama Generasi Milenial dan Gen Z harus mampu menyaring dan lebih bijak lagi dalam melihat apa yang social media tampilkan kepada kita.

Nah, trend kecemasan berlebihan ini sering disebut “FoMO”, Apakah itu FoMO? Mari kita simak di artikel berikut ini:

Apakah itu FoMO?

FoMO, singkatan dari fear of missing out, adalah suatu kondisi di mana seseorang kerap merasa khawatir akan ketinggalan kabar atau trend yang sedang berlangsung. Orang-orang yang mengalaminya kerap merasa takut akan dicap ketinggalan zaman dan tidak gaul. Tak hanya itu, mereka juga beranggapan bahwa orang lain selalu bersenang-senang dan memiliki kehidupan yang jauh lebih baik daripada mereka.

Kondisi ini kerap dirasakan oleh anak-anak muda, terutama bagi yang aktif di media sosial. Meski media sosial sangat bermanfaat untuk menjalin komunikasi, wadah ini juga bisa memberikan dampak yang kurang baik. Banyak orang yang berlomba-lomba untuk menjadi yang paling update informasi tertentu atau menunjukkan kesenangan di media sosial.

BACA JUGA  Pentingnya Worklife Balance yang Wajib Kamu Tahu!

Tak jarang berbagai unggahan foto dan video menimbulkan rasa iri dan membuat seseorang merasa bahwa hidupnya tak lagi menyenangkan. Namun, hal ini membuat dampak buruk secara psikologis yang harus segera dihilangkan.

FoMO juga berkaitan erat dengan perasaan untuk selalu terlibat dalam segala momen yang menyenangkan agar bisa mengabadikannya dan mengunggahnya ke media sosial. Demi mengejar eksistensi dan pengakuan, beberapa orang bahkan sengaja memasang gambar, tulisan, atau bahkan menampilkan imej yang tak sesuai dengan jati diri sebenarnya.

Bagaimana dampak dari FoMO itu sendiri?

Beberapa penelitian telah menunjukkan kaitan antara FoMO dengan perasaan terputus dari orang lain dan ketidakpuasan dengan kehidupan sendiri. Dan, berdasarkan studi tahun 2013 yang terbit pada jurnal Computer in Human Behavior, orang-orang dengan tingkat FoMO yang tinggi merasa kurang terhubung dengan kehidupan sehari-hari.

Melihat unggahan di sosial media membuat orang-orang yang mengalami situasi ini jadi mempertanyakan kemampuan diri sendiri dan hidupnya. Mereka menganggap bahwa kebahagiaan, kesuksesan, dan pengalaman menarik orang lain yang tidak mereka miliki membuat hidup mereka jadi lebih menyedihkan dan berpikir hidup ini sangat tertinggal. Sedikit banyak hal ini memengaruhi cara pandang mereka mengenai kehidupan yang ideal.

Selanjutnya, lama-kelamaan perasaan takut tertinggal ini juga bisa menimbulkan kecemasan. Perlu diketahui, kecemasan adalah suatu hal yang mampu memicu stres berlebihan. Berdasarkan sebuah studi, kecemasan dapat membuat produksi hormon-hormon penting tubuh seperti serotonin dan adrenalin terganggu. Susah tidur, tidak nafsu makan, sakit kepala, dan mood kacau bisa muncul ketika hormon dalam tubuh Anda tidak seimbang.

Selain itu, FoMO juga bisa memengaruhi hubungan Anda dengan orang lain. Misalnya, seorang teman menolak ajakan Anda untuk pergi ke suatu tempat. Namun beberapa hari kemudian, teman Anda mengunggah gambar yang menunjukkan bahwa ia pergi ke tempat tersebut bersama orang lain tanpa sepengetahuan Anda.

BACA JUGA  5 Penyakit yang Sering Muncul Saat Musim Hujan, Waspada!

Hal ini tentu dapat membuat Anda yang lebih dulu mengajak teman Anda merasa terkhianati. Hubungan dengan teman tersebut pun jadi kurang baik. serta banyak lagi hal lain yang akan menjadi terganggu. Oleh karena itu FoMO sangat berbahaya bagi dampak secara psikologi untuk generasi Milenial dan Z di Indonesia saat ini.

Tips Menghindari Sikap FoMO

1. Batasi waktu di sosial media

Menghindari FoMO bukan berarti Anda tidak boleh menggunakan media sosial sama sekali. Hanya saja, ada baiknya Anda membatasi kegiatan ini.

Coba tetapkan batasan waktu untuk memeriksa media sosial setiap hari. Misalnya, Anda hanya akan membuka aplikasi tersebut selama 2 jam dalam waktu yang terbagi. Anda juga bisa mematikan notifikasi agar tidak muncul di ponsel setiap saat.

2 Media sosial hanya dunia maya

Tekankan pada pikiran Anda bahwa apapun yang diunggah orang lain di sosial media tidak selalu seindah kenyataannya. Gambar atau video yang mereka unggah tentunya hanya menampilkan momen-momen yang menyenangkan.

Ingat, seberapa sempurna atau menarik kehidupan seseorang menurut Anda, mereka tentu juga pernah mengalami kesusahan dan hari-hari yang buruk.

3 Bersyukur

Lagi-lagi, media sosial dapat membuat seseorang yang mengalami FoMO cenderung membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain. Tak jarang perasaan ini diikuti dengan cemas dan iri hati.

Meski terasa klise, melatih menumbuhkan rasa syukur bisa membantu Anda meningkatkan kepuasaan pada kehidupan yang Anda miliki. Setiap Anda merasa iri dengan hidup orang lain, alihkan fokus Anda pada aspek yang positif dari kehidupan Anda.

4. Meditasi

Selain membatasi waktu di media sosial, coba luangkan waktu Anda untuk berlatih meditasi. Rutin bermeditasi dapat membantu menjernihkan pikiran dan mengurangi kecemasan.

BACA JUGA  Tips Bersih-bersih Rumah yang Mesti Kita Ketahui!

5. Menyaring konten yang ingin Anda lihat

Coba lihat kembali, hal-hal apa yang dapat memicu perasaan FoMO yang Anda alami. Kemudian, singkirkanlah hal tersebut dari linimasa media sosial Anda.

Misalnya, Anda bisa menyembunyikan orang-orang yang menurut Anda mengganggu atau senang menyombongkan diri. Sebagai gantinya, penuhi linimasa Anda dengan orang-orang yang positif atau hal-hal yang Anda senangi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *